DENPASAR – Seperti diperkirakan sejumlah pihak, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada kuartal I 2020 akan turun cukup banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu disebabkan pandemi Covid-19. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2 Juni 2020, kunjungan turis turun sebanyak 45,01% dari 5,031 juta menjadi 2,76 juta orang.

Penurunan jumlah kunjungan wisman sebesar itu belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sektor pariwisata di Indonesia, setidaknya dalam lima tahun kurun 2015-2020. Kunjungan turis menunjukkan grafik tumbuh dari tahun ke tahun. Misalnya, pada kuartal I 2015, jumlah turis sebanyak 838.030 orang bertambah menjadi 901.095 turis di periode serupa tahun 2016. Laju kenaikan itu terjadi berturut-turut hingga kuartal I 2018. Memang, jumlah kunjungan pelancong asing sempat turun pada kuartal I 2019 menjadi 1,27 juta turis dibandingkan periode serupa tahun 2018 sebanyak 1,30 juta, namun secara akumulasi kunjungan turis naik menjadi 16,10 pada akhir tahun 2019 juta dari 15,18 juta pada 2018.

Di awal tahun ini, jumlah kunjungan turis memang sempat menggembirakan karena terjadi pertumbuhan jumlah turis menjadi 1,27 juta dari 1,20 juta pada Januari 2019. Namun, tren kedatangan wisman pada Februari 2020 menurun karena pandemi Covid-19 yang terjadi di Kota Wuhan, China, ditemukan juga terjadi di negara-negara di sekitarnya. Sehingga sejumlah negara asal kedatangan turis, termasuk pemerintah Indonesia mengeluarkan sikap dan kebijakan larangan sementara melarang warganya melakukan perjalanan dan menerima kedatangan turis.

Dampak pandemi itu juga memukul sektor transportasi. Penerbangan internasional turun 42,78% dari menjadi 3.40 juta penumpang pada bulan pertama tahun ini dari 5,94 juta penumpang pada empat bulan pertama tahun lalu. Bahkan, penurunan jumlah penerbangan mencapai 95,35% menjadi 30,000 penumpang di bulan April 2020 dari 560.000 penumpang pada Maret 2020. Kondisi yang sama juga terjadi pada penerbangan domestik dan moda darat, yang menjadi sarana transportasi alternatif bagi wisatawan domestik mengunjungi berbagai destinasi wisata di Indonesia.

Terjadinya kodisi ini bukan hanya disebabkan turunnya minat wisatawan melakukan perjalanan karena merebaknya wabah itu. Tapi, karena sektor penerbangan juga ikut menjalankan kebijakan pemerintah yang menerbitkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna pencegahan pandemi Covid-19. Oleh karena itu, maskapai penerbangan menghentikan sementara operasional untuk rute internasional dan domestik, kecuali untuk angkutan logistik.

Efek domino dari turunnya kunjungan turis ikut menimpa industri perhotelan dan restauran. Sejumlah pengusaha perhotelan dan restauran harus menghentikan operasional sementara karena menurunnya jumlah pengunjung hotel karena PSBB. Sebagian operasional hotel dihentikan sementera waktu seperti Hotel Eastparc di Yogyakarta dan hotel lainnya di Bali. Termasuk gerai makanan cepat saji yang berada di mall di daerah wisatawan yang masuk kategori zona merah pandemi Covid-19.

Berdasarkan data BPS Juni 2020, tingkat hunian (occupancy) hotel klasifikasi bintang turun minus (-) 19,57 poin menjadi -12,67 poin pada April 2020 dari -32,24 poin pada Maret 2020. Demikian juga halnya tingkat hunian kamar hotel klasifikasi bintang pada April 2020 turun minus 41,23 poin dari 53,90 poin pada April 2019.

Kondisi ini tentu berdampak pada beberapa perusahaan perhotelan yang mengalami penurunan pendapatan. Sehingga untuk melancarkan arus kas perusahaan, telah mengambil sejumlah kebijakan seperti ikut mengurangi jumlah karyawan, memotong gaji hingga 50% seluruh karyawan hingga jajaran direksi, dan merumahkan sementara karyawan kontrak sampai perusahaan beroperasi kembali di saat new normal Covid-19.

Leave a Comment