DENPASAR – Masa depan industri pariwisata Indonesia tengah dibayangi masa suram tahun ini, bila wabah Virus Corona (Covid-19) terus meluas. Kunjungan turis akan menyusut seiring kebijakan pemerintah menutup kedatangan turis dari sejumlah negara di mana, ditemukan banyak kasus Covid-19.

Awal pekan ini, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengeluarkan kebijakan larangan turis dari Iran, Italia dan Korea Selatan masuk dan transit ke Indonesia. Kebijakan ini untuk mencegah potensi penyebaran Covid-19 imelalui travelers ke sejumlah destinasi wisata seperti, Jakarta, Bali, dan Jawa Tengah. Sebab bila tidak diambil tindakan tersebut, penyebaran virus ini akan mengganggu perekonomian yang berdampak ke masalah-masalah sosial.

seperti diketahui, tiga negara tersebut tercatat sebagai negara dengan tingkat penyebaran Covid-19 tertinggi di dunia. Mengacu data dari ourworldindata.org, temuan kasus ini di Italia tercatat sebanyak 4,636 kasus dengan 778 kasus baru per 7 Maret 2020, di Iran tercatat sebanyak 4.747 kasus dengan 1,234 kasus baru, sedangkan di Korea Selatan tercatat sebanyak 6.767 kasus dan 483 kasus baru.

Sebenarnya, turis yang paling banyak masuk ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berasal dari Malaysia, China, dan Vietnam. Data BPS menyebutkan, jumlah turis ASEAN yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 440.561 turis pada Januari 2020. Dari jumlah itu, turis asal Malaysia dan Singapura berada pada urutan pertama dan kedua masing-masing sebanyak 206.532 orang dan 138.625 orang.

Sedangkan pada bulan yang sama di tahun ini, jumlah travelers yang berkebangsaan dari Iran, Italia, dan Korsel masing-masing sebanyak 601 orang, 4,985 orang, dan 38.131 orang. Jadi, travelers yang berasal dari tiga negara tersebut bukanlah yang terbanyak berkunjung ke Indonesia. Oleh karena itu, larangan masuk dan transit tersebut ditujukan untuk semua turis dari semua negara yang pernah melakukan perjalanan dari dan ke tiga negara itu dalam 14 hari terakhir. Sebab penyaluran virus ini terjadi lewat kontak fisik atau pun dari batuk atau bersin dari Orang Dengan Pengawasan (ODP) Covid-19, yang sejatinya tidak menyadari menjadi medium pengantar virus tersebut ke Indonesia.

Munculnya Covid-19 yang ditetapkan baru-baru ini oleh World Health Organization (WHO) sebagai wabah penyakit baru (pedemi) yang diketahui pertama kali muncul di Kota Wuhan, China, tidak bisa diprediksi sebelumnya oleh berbagai negara. Oleh karena itu, penyebarannya pun meluas seiring pergerakan dan kontak manusia dari kota itu menuju berbagai negara di dunia. Termasuk paparan virus ini di Indonesia yang diketahui merupakan imported cased, yakni orang yang baru kembali dari luar negeri.

Indikasi wabah ini mulai memukul industri pariwisata tampak dari berkurangnya okupansi hotel bintang di sejumlah lokasi wisata. Data BPS menyebutkan, di Provinsi Bali, provinsi yang menjadi barometer kunjungan pariwisata di Indonesia, tingkat hunian hotel bintang pada Januari 2020 tercatat 59,29%, turun dibandingkan tingkat hunian hotel bintang pada Desember 2019 sebanyak 62,55%. Bahkan, tingkat hunian hotel bintang pada awal tahun ini lebih rendah dibandingkan pada Januari 2019 dan Januari 2018 yang tercatat masing-masing 53,27% dan 52,97%.

Okupansi hotel juga mengalami penurunan di Provinsi DKI Jakarta, yang tercatat menjadi 51,37% pada Januari 2020 dari 61,59% pada Desember 2019. Bahkan penurunan okupansi hotel bintang pada awal tahun ini cukup drastis dibandingkan pada Januari 2019 dan Januari 2018 masing-masing sebanyak 69,84% dan 64,74%.

Bila wabah virus ini terus meluas hingga semester pertama tahun ini, bukan tidak mungkin akan menjadi pukulan paling terasa di sektor pariwisata Indonesia. Dampaknya juga akan terlihat pada sektor yang berhubungan dengan industri ini, seperti sektor restaurant dan produk kerajinan tangan skala Usaha Kecil dan Menengah (UMKM). Oleh karena itu, pemerintah sedang mengkaji kemungkinan meminimalisir penyebarannya dengan membatasi sementara waktu aktivitas warga ke luar rumah (lock down) hingga wabah ini mereda.

Leave a Comment