Menakar Kebutuhan SDM Profesional di Sektor Pariwisata

Menakar Kebutuhan SDM Profesional di Sektor Pariwisata

DENPASAR – Ketika pemerintah mengembangkan 10 destinasi pariwisata (Bali Baru), tujuan besarnya tentu bukan sekadar meraup devisa dan menyerap tenaga kerja di sektor ini. Tapi juga mencetak sumber daya manusia (human capital) yang cakap dan profesional. Oleh karena itu, saat tujuan besar tadi dicapai, semestinya diikuti ketersediaan tenaga kerja yang memiliki kompetensi.

Mengacu laporan kinerja Kementerian Pariwisata (2016), hingga tahun-tahun mendatang sektor pariwisata diproyeksikan akan menyumbang devisa terbesar di antara sektor lainnya seperti, migas, tambang, dan crude palm oil (CPO). Dalam tiga tahun terakhir, kontribusi sektor pariwisata menunjukkan tren meningkat, tahun 2017 penerimaan devisa mencapai US$ 16.8 milar, sedangkan sektor lainnya justru cenderung melandai, jika tidak ingin disebut menurun.

Penurunan kontribusi sektor migas, tambang, dan CPO dipicu gejolak harga di pasar dunia seiring maraknya isu lingkungan hidup (environmental), sosial, dan politik. Ekspor CPO RI ke pasar Uni Eropa, misalnya, dihantui penolakan karena isu kerusakan hutan akibat pembukaan lahan perkebunan sawit di atas lahan gambut. Ekspor migas dan batubara cenderung turun karena gejokal harga dampak isu energi terbarukan di pasar global. Selain karena cadangan batubara semakin menipis sehingga pemerintah perlu mengatur volume kebutuhan pasar dalam negeri (domestic market obligation) untuk industri.

Kenaikan kontribusi sektor pariwisata berlangsung seiring pertumbuhan ekonomi di negara berkembang dan negara maju. Kenaikan pendapatan (income) penduduk sejumlah negara berkembang dan maju diikuti kenaikan belanja penduduknya. Dimana belanja uang bukan lagi sekadar mengisi kebutuhan primer dan sekuder, tapi mencapai kebutuhan tersier, salah satunya pada sektor jasa pariwisata.

Maka, kini mudah menemukan berbagi penduduk dunia berkunjung ke berbagai tujuan wisata di Indonesia, sebagai turis dan pelancong dengan atau tanpa bantuan agen perjalanan. Di daerah wisata, kebutuhan para turis ini sudah sangat beragam dan tak lagi sekadar melihat dan menikmati keindahan alam Indonesia. Tak jarang di antaranya, datang khusus mencari makanan khas dan unik (the foodie), pesta-pora di klub private (the partier), dan eksploitas budaya (cultural explorer). Melihat tren ini, rasanya tidak berlebihan bila pemerintah optimistis akan kenaikan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian.

Namun, tren dan opportunity ini bisa saja tidak optimal karena kekurangan SDM profesional di sektor pariwisata. Laporan kinerja Kementerian Pariwisata 2017 menyebutkan jumlah serapan tenaga kerja langsung, tidak langsung dan ikutan sektor pariwisaa mencapai 12 juta orang. Namun, jumlah tenaga kerja yang disertifikasi mencapai 65.000 orang pada 2017. Sedangkan jumlah lulusan pendidikan tinggi kepariwisataan yang terserap ke industri ini hanya 2.100 orang, atau 3.23% dari jumlah tenaga kerja yang tersedia.

Dengan kondisi ini, maka upaya ekploitasi dan eksplorasi segenap potensi wisata, alam, budaya, dan kuliner yang sudah berlangsung agak lambat memenuhi target 20 juta turis ke Indonesia. Dibandingkan lima negara di ASEAN, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia baru mencapai 14.03 juta, di posisi ke empat dari lima negara, di bawah Thailand, Malaysia, Singapura, dan di atas Vietnam pada 2017.

Adanya tenaga kerja trampil dan disertifikasi di sektor pariwisata bisa saja memengaruhi kepuasan turis saat melakukan perjalanan wisata. Data BPS November 2018, menyebutkan pada tahun 2017, lama menginap tamu lokal dan tamu asing di hotel bintang rerata 1,91 (malam) dan 2.84 (malam). Rentang waktu menginap tamu lokal dan tamu asing di hotel non bintang rerata 1.41 (malam) dan 2.87 (malam). Sedangkan pada 2016, lama menginap tamu domestik dan asing di hotel bintang rerata 1.38 malam dan 2.73 malam, lama menginap tamu domestik di hotel non bintang rerata 1.38 malam dan 2.73 malam.

Data ini bisa menjadi perkiraan tentang uang belanja turis, misalnya, untuk akomodasi, kuliner, produk kerajinan tangan, dan tiket ke lokasi wisata berbayar. Pada 2017, realisasi pengeluaran wisatawan nusantara mencapai Rp 253.25 triliun, sedikit di atas target Rp 227.9 triliun. Realisasi ini pada tahun-tahun mendatang diharapkan terus meningkat seiring waktu menginap turis lebih lama lagi di Indonesia.

Betah atau tidak bagi turis saat melakukana perjalanan, tidak semata karena budget, faktor lain yang tidak kalah penting, yakni pelayanan SDM profesional. Semakin terdidik SDM di sektor ini, harapannya tentu akan mampu bekerja profesional sesuai standard dalam memberikan kepuasan konsumen. Oleh karena itu, pemerintah dan pemangku kepentingan terkait harus terus menggenjot ketersediaan tenaga kerja bersertifikasi guna merespon tingginya kebutuhan SDM di sektor pariwisata.  Terutama, untuk mengisi kebutuhan SDM trampil untuk 10 destinasi wisata baru yang sedang dikembangkan pemerintah saat ini.

Leave a Reply